SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN DAERAH PRIORITAS PENANGANAN STUNTING PADA BALITA MENGGUNAKAN METODE TOPSIS (STUDI KASUS: DINAS KESEHATAN KOTA BONTANG)

Penulis

  • Risma wati Sekolah Tinggi Teknologi Bontang
  • Akbar Sekolah Tinggi Teknologi Bontang

DOI:

https://doi.org/10.59811/asceqz55

Kata Kunci:

Stunting, Prevalence, TOPSIS, Highest Preference

Abstrak

Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Standar WHO (World Health Organization) terkait prevalensi stunting harus di angka kurang dari 20 persen. Kasus stunting di Kota Bontang meningkat pada 2022 lalu menjadi 21 persen. Padahal pada 2021 lalu, kasus stunting hanya di angka 19 persen. Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa target penurunan angka gagal tumbuh atau stunting sebesar 14 persen harus dapat dicapai pada tahun 2024 mendatang. Untuk mendukung dalam mengurangi angka persentase stunting di Kota Bontang maka dirancang dan dibangun sebuah sistem yang menerapkan metode TOPSIS (Technique for Order Performance by Similarity to Ideal Solution) dalam menentukan daerah prioritas penanganan stunting pada balita. Metode Penelitian yang digunakan ini yaitu penelitian tindakan (Action Research). Dalam menemukan daerah prioritas maka langkah - langkahnya yaitu menentukan sifat dan kriteria, menentukan alternatif poin dan nilai matriks, membuat matriks keputusan yang ternormalisasi, membuat matriks ternormalisasi terbobot, menentukan solusi ideal positif dan negatif, menentukan jarak ideal positif dan negatif dan yang terakhir menentukan preferensi. hasil dari penelitian perancangan sistem aplikasi dengan menggunakan data dari tahun 2021 menghasilkan sistem pendukung keputusan dengan urutan nilai preferensi tertinggi yaitu Bontang Utara I dengan nilai V = 1 yang harus diprioritaskan dalam penanganan stunting pada balita.

Unduhan

Diterbitkan

2024-05-31

Terbitan

Bagian

Sekolah Tinggi Teknologi Bontang